Halimah, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Raih Anugerah Inspiratif Tjindarboemi PWI Lampung

Kota Bandar Lampung

Bandarlampung (Restorasi News Siber Indonesia/SMSI) – Perjalanan satu sampai tiga jam tiap hari Senin dan Jum’at, menjadi rutinitas Halimah (34),  guru honor PAUD, asal Dusun Sukamaju,  Pekon Putihdoh, Kecamatan Cukuhbalak, Tanggamus, menuju Pulau Tabuan. Wanita kelahiran 5 Juni 1987, itu meraih Penghargaan Inspiratif Tjindarboemi Pejuang Pendidikan PWI Provinsi Lampung tahun 2021.

Halimah harus berjuang melawan ombak lautan lepas wilayah Tanggamus menuju Pekon Sukabanjar, Pulau Tabuan. Setiap Senin pagi dengan mengendarai tumpangan perahu jukung nelayan, demi mengajar di PAUD Mawar. Kegigihan demi generasi bangsa itu dilakoni sejak tahun 2012.

“Sempat mengajar beberapa PAUD desa tetangga, Pekon Banjarmanis, Pekondoh, Kemudian di Pulau Tabuan. Awalnya ditawari Dinas siapa yang bersedia, karena tidak ada yang mau saya menyodorkan diri. Ya motivasinya ingin berbagi dengan mereka yang berada terpencil, termasuk terisolasi. Mereka di sana jauh dari teknologi,” kata Halimah.

Menurut Halimah, untuk menuju pulau hanya bisa dilalui dengan perahu jukung, dengan jarak tempat 1-3 jam.

“Satu jam jika ombak tenang. Ya harus terombang ambing tiga jam lebih jika ombak sedang besar. Berangkat dan pulang bersama warga, kadang saya bawa anak saya,” kata wanita dua orang anak ini.

Halimah mengaku mengajar sejak hari Senin dan kembali ke rumah Jum’at sore. Sudah 10 tahun Halimah mengabdikan diri di sekolah PAUD itu.

“Saya bangga dengan profesi saya sebagai guru meski hanya mengajar di PAUD di daerah terpencil pulau. Alasan mengajar di daerah terpencil hanya ingin membagikan ilmu kepada banyak orang,” ujar Halimah yang sempat kaget dapat penghargaan bergengsi dari PWI Provinsi Lampung.

Halimah juga mengaku mau mengajar di pulau Tabuan karena di sana sangat membutuhkan tenaga pendidik yang bisa cerita juga dunia luar.

Baca Juga :  Rupbasan Kelas I Bandarlampung Terima Barang Sitaan Ditreskrimsus Polda Lampung

“Pulau Tabuan itu daerah yang terisolir. Dan menjadi tantangan jiwa dengan memberikan pengetahuan. Daripada ilmu tertinggal di rumah lebih baik dibagi dan semoga bisa jadi amal jariyah,” kata Halimah.

Soal honornya, Halimah menyatakan menerima gaji honor insentif dari Kabupaten Rp200 ribu perbulan, dengan tambahan, insentif desa Rp300 ribu dan ada tambahan transportasi dari dana BOP Kesosialan dari Pengelola PAUD. “Dibayarnya pertiga bulan,” ujarnya polos.

Soal status PNS, Halimah menyatakan siapa yang tidak mau jadi PNS, tapi itu hanya keinginan.

“Mau jugalah bang jadi status PNS. Tapi saya tidak berani mendaftar CPNS. Saya tahu diri aja dan tak mau mimpi tinggi-tinggi. Kita di kampung  ga punya dekengan, mana mungkinlah bang jadi CPNS. Mau daftar aja minder duluan. Kalo sudah rejeki ya nanti juga datang,” katanya. (*/PWILampung/red)