PERTANIAN (RNSI) – Dalam dunia pertanian, penggunaan pestisida guna penanggulangan serangan hama tanaman sudah tidak asing.
Di era modern, hasil produksi pertanian, khususnya jenis tanaman hortikultura, dititikberatkan dengan penggunaan pupuk maupun pestisida berbahan organik yang bersumber dari unaur nabati maupun yang memiliki unsur hewani.
Tentunya dengan satu metode tertentu dalam pengolahan maupun penggunaannya.
Terkait itu, redaksi RNSI melalui postingan akun media sosial Facebook dengan nama Perkebunan dan Pertanian yang intens memberikan informasi seputar seluk-beluk dunia pertanian, memposting satu informasi yang cukup menarik perhatian.
Dalam postingan akun dimaksud, pada Sabtu, 13 Juli 2024, tertulis dan dilansir ulang redaksi RNSI sebagai berikut.
Banyak yang bertanya, apakah pestisida nabati lebih aman (safe) dibandinglan dengan pestisida kimia sintetik? Susah menjawabnya, karena jawabnya bisa “ya”, bisa juga “tidak”.
Senyawa kimia adalah senyawa kimia, baik itu senyawa sintetik atau senyawa nabati. Semua senyawa yang digunakan sebagai pestisida pasti mengandung “sesuatu” yang bersifat racun.
Demikian pula bahan-bahan nabati yang digunakan sebagai pestisida pasti mengandung senyawa beracun.
Daun mimba mengandung azadiraktin, umbi gadung mengandung dioskorin, tembakau mengandung nikotin, akar tuba mengandung rotenon, dan masih banyak lagi bahan nabati yang saya tidak tahu apa isinya.
Kekuatan racun diukur dengan angka LD50. LD50 menggambarkan bahaya racun terhadap manusia.
Makin kecil angka LD50-nya, racun tersebut semakit kuat (makin beracun bagi manusia).
Nah, racun-racun tumbuhan (nabati) ada yang kuat ada yang kurang kuat.
Racun-racun nabati yang termasuk racun kuat misalnya ricin (LD50 20), solanin (LD50 43), nikotin (LD50 10-60), dioskorin (60), dan sebagainya.
Ada pula racun-racun nabati yang tidak terlalu kuat, seperti rotenon (LD50 1500), ektrak ryania (LD50 1200), bubuk piretrum (LD50 1280-3920), azadiraktin (5000), dan sebagainya.
Singkatnya, racun tumbuhan ada yang sangat berbahaya ada pula yang kurang berbahaya (lihat slide terlampir, yang berasal dari tumbuhan atau metabolit diberi garis bawah).
Bahan nabati menjadi “kurang berbahaya” karena yang dipakai petani umumnya bukan senyawa kimia yang murni, tetapi bahan tumbuhan (daun, buah, umbi) yang kandungan senyawa murninya rendah.
Kita tiap hari makan terong yang mengandung solanin, tetapi meskipun solanin termasuk racun keras, kita tidak pernah keracunan terong karena kandungan solanin pada terong sangat rendah.
Semoga menambah wawasan Anda. (****)