Menu

Mode Gelap
Bersama Komunitas Sepeda, Kapolres Lampura Edukasi Masyarakat Hidup Sehat dan Hemat BBM Berulah Pornoaksi, Pria Bertato Ditangkap Polisi Mardiana Sosialisasikan Perda Prov Lampung tentang Perlindungan dan Pemberdayaan UMKM Sempat Kabur, DPO Tersangka Narkoba Terciduk Polres Lampura Gelar Perkara, Lima dari Enam Terduga Provokator Ditetapkan Tersangka

Opini & Puisi WIB ยท

SELAGI BIDUK BELUM LAPUK


					SELAGI BIDUK BELUM LAPUK Perbesar

Karya : INGGIT PUTRIA MARGA

seperti deret ranjang di kamar kelas tiga sebuah rumah sakit biduk-biduk berjajar di sebentang air berwarna mendung. serupa pasien dan pembesuk, di salah satu biduk, empat lelaki duduk:
tiga bercakap khusuk, satu terus terbatuk. elang dan camar tak ada di sana, sebagaimana awan atau langit tak disebut dalam percakapan mereka. yang berkali terbilang dalam bincang
adalah berapa keranjang ikan mesti ditangkap, berapa harga mesti diungkap agar fajar nanti pesta pelelangan meriah selaras harap. sementara, di garis batas langit dan laut, matahari menggali liang kuburnya.

bintang-bintang teruntai dalam rasi dan matahari telah mati suri saat satu dari empat lelaki panahkan pandang ke tengah lautan. lidah angin malam menjilat matanya ketika tatapan lelaki itu tertumpu di nanar mata mercusuar. bagai beri aba-aba ia lambaikan tangan. dua lelaki lain berdiri, bebaskan jangkar perahu dari cengkraman tepi dermaga penuh batu. yang batuk tetap duduk dalam biduk, menjaga gelas angan agar tak pecah oleh kantuk.

seputih asap dari mulut meriam yang pernah ada di dermaga ini garis-garis buih hadir lalu berakhir saat perahu mulai bergerak membawa empat nelayan yang mengangan ikan

di laut bercorak minyak.

 

Tentang Penyair :

*) Inggit Putria Marga, penyair, lahir di Tanjungkarang, Lampung, pada 25 Agustus 1981. Menamatkan pendidikan S1 Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (2005). Dua buku puisinya yaitu, yaitu Penyeret Babi (2010) dan Empedu Tanah (2019) berhasil meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 dan diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan termuat dalam Jentayu edition: Hors-serie numero 3. Sedangkan puisi-puisinya dialihbahasakan ke dalam bahasa inggris dan termuat di Stand Magazine volume 12 (Inggris Raya). Ia pernah mengikuti sejumlah festival sastra, antara lain International Literary Biennale 2005 dan 2009 di Jakarta, Ubud Writers and Readers Festival di Bali, 2009, Cakrawala Sastra Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta, 2005, dan Festival Puisi Antara Bangsa di Pangkor, Malaysia. Puisi-puisi di Sajak Kofe menjadi bagian dalam menyambut Festival Bahasa dan Sastra Media Indonesia 2021. Kini, dia berdomisili dan berkegiatan di Bandarlampung.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

PINTU

14 Agustus 2022 - 15:32 WIB

DI PINGGANG TAMAN CINTAMANIS

30 Juli 2022 - 16:57 WIB

Menang atau Kalah

28 Juli 2022 - 09:26 WIB

Semoga Pemilihan Peratin Berjalan Sesuai Harapan

27 Juli 2022 - 16:01 WIB

RUMAH ASPIRASI

17 Juli 2022 - 18:20 WIB

Wajar Berbeda Pilihan

8 Juni 2022 - 10:35 WIB

Trending di Opini & Puisi
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d blogger menyukai ini: