Menu

Mode Gelap
Ta’aruf STEBI Liwa TA 2022-2023: Mahasiswa adalah Agent of Change Pelajar Pesibar Diimbau Wajib Gunakan Helm Bina Warga Sukadanaudik, Mardiana Tegaskan Keutuhan Bangsa Berpedoman pada Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Bid Propam Polda Lampung Gelar Mitigasi Gaktiblin di Polres Lampura DPP GPPMP Luncurkan 25 Kandidat Tokoh Inspiratif Kandidat Peraih Award 2022

Pendidikan & IPTEK WIB ·

Peneliti CERN Temukan Bukti Pertama Peluruhan Boson Higgs yang Langka


					Peneliti CERN Temukan Bukti Pertama Peluruhan Boson Higgs yang Langka Perbesar

Swiss (Restorasi News Siber Indonesia/SMSI) – Sejumlah ilmuwan yang bekerja di Pusat Riset Nuklir Eropa (Centre Europeen pour la Recherche Nucleaire-CERN) menemukan bukti pertama peluruhan Boson Higgs yang langka, dilansir Gatra.com, Selasa, 16 Februari 2021.

Terkait Boson HIggs, yang poluler dengan sebutan ‘Partikel Tuhan’, hipotesisnya untuk kali pertama dikemukakan ahli fisika teori Inggris, Peter Ware Higgs, medio 56 tahun silam.

Jal ini bermula dari keheranan ilmJiggs, terkait benda bermassa kehilangan wujud ketika dipecah dalam ukuran molekul, atom, dan quark.

Higgs berpendapat, materi paling awal setelah ledakan besar itu tidak memiliki massa.

Lalu dari penelitian yang dilalukannya, lartikel-partikel itu melewati medan energi mahadahsyat yang memberinya massa. Setelah melewati medan energi massa dan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu, partikel yang disebut Boson Higgs itulah yang menjadi cikal bakal seluruh materi di jagat raya ketika mendapat massa. Termasuk menjadi cikal bakal makhluk hidup.

Disebabkan pada masa itu, Higgs mengaku ateis, para ilmuwan pun mengejek dirinha dengan olok-olok “partikel Tuhan”.

Seiring berjalannya waktu, eksistensi boson Higgs dibuktikan ilmuwan Pusat Riset Nuklir Eropa (Centre Europeen pour la Recherche Nucleaire -CERN) pada 2012.

Para ilmuwan menemukan bukti pertama pembusukan boson Higgs yang langka dan memperluas pemahaman kita tentang alam semesta kuantum yang aneh, seperti disiarkan melalui laman resmi Live Science, Selasa, 16 Februari 2021.

Nobel Fisika 2013 dianugerahkan kepada dua ilmuwan, Francois Englert dari Belgia dan Peter Higgs dari Inggris, terkait dengan partikel yang disebut boson Higgs.

Kedua ilmuwan inipun pada tahun 1960-an termasuk di antara sejumlah ahli fisika yang mengusulkan satu mekanisme untuk menjelaskan mengapa sebagian besar benda memiliki massa.

Baca Juga :  Planet Mars Miliki Panorama Kawah Beku hingga Gunung Api Raksasa, Destinasi Wisata Futuristik?

Mekanisme itu memperkirakan sebuah partikel -boson Higgs- yang akhirnya ditemukan pada tahun 2012 di CERN, Swiss, setelah menjadi bahan penelitian selama 45 tahun.

Informasi terkait Boson Higgs atau Partikel Tuhan tidak tahan hidup lama. Dalam waktu singkat, ia membusuk menjadi partikel yang kurang masif seperti dua foton (partikel cahaya).

Kini, para peneliti yang menggunakan ATLAS dan CMS di Large Hadron Collider CERN di Swiss telah menemukan bukti peluruhan boson Higgs yang langka di mana partikel subatomik meluruh menjadi satu foton dan dua lepton, sejenis partikel elementer yang dapat bermuatan atau netral.

Elektron dan muon, sejenis partikel subatomik, adalah dua contoh lepton bermuatan.

Secara khusus, mereka menemukan bukti bahwa boson Higgs dapat meluruh menjadi foton dan sepasang elektron, atau foton dan sepasang muon dengan muatan berlawanan.

Dengan menggunakan Model Standar, para ilmuwan dapat memprediksi berbagai partikel elementer yang dapat meluruhkan boson Higgs, dengan peluruhan yang cukup “umum” menjadi dua foton.

Mereka juga dapat memperkirakan seberapa sering boson Higgs meluruh menjadi kombinasi partikel yang berbeda, dan sangat jarang boson Higgs meluruh menjadi foton dan dua lepton.

Dalam jenis pembusukan ini, setelah umurnya yang sangat pendek, boson Higgs dengan cepat berubah menjadi satu foton dan yang oleh para ilmuwan disebut sebagai “foton maya”.

“Foton maya”, juga dikenal sebagai “foton lepas cangkang”, kemudian segera berubah menjadi sesuatu seperti, dalam hal ini, dua lepton. Ini “foton virtual” memiliki massa bukan-nol yang sangat kecil, sementara foton biasa benar-benar tidak bermassa,

James Beacham, fisikawan partikel dengan eksperimen ATLAS di LHC, mengatakan kepada Space.com, kedua lepton itu menghantam kalorimeter sangat dekat satu sama lain.

Baca Juga :  Indonesia akan Ikuti International Army Games

“Kalorimeter LHC adalah alat yang menghentikan partikel yang datang dari hasil tumbukan partikel. Ilmuwan dapat menemukan dan mempelajari partikel-partikel ini ketika mereka dihentikan atau “diserap” oleh alat tersebut,” kata James Beacham.

Para ilmuwan lainnya juga yelah meramalkan bahwa jenis peluruhan ini harus ada dengan boson Higgs, deteksi baru ini.

Petunjuk pertama dari bukti mode peluruhan boson Higgs yang sangat langka ini,” kata Beacham.

Namun, tambahnya, tim kemungkinan tidak akan dapat secara langsung mengamati kerusakan langka sampai mereka meningkatkan fasilitas untuk program LHC High-Luminosity mendatang (yang akan mengikuti LHC Run 3.

Data yang digunakan untuk studi ini dikumpulkan selama Run 2, periode berjalan kedua untuk collider yang dimulai pada 2015 dan berakhir pada 2018. Run 3 akan dimulai pada Maret, 2022.

“Dengan sejumlah besar data yang diharapkan dari program High-Luminosity LHC , mempelajari peluruhan boson Higgs yang langka akan menjadi norma baru,” menurut pernyataan dari ATLAS .

Dengan mempelajari peluruhan langka seperti ini, para peneliti dapat mengeksplorasi kemungkinan fisika baru yang melampaui Model Standar.

“Model Standar menjelaskan banyak hal tentang alam semesta fisik kita, tetapi tidak termasuk gravitasi atau materi gelap,” terang Beacham.

Materi gelap , yang tidak memancarkan cahaya dan tidak dapat diamati secara langsung, diperkirakan membentuk sekitar 80% dari semua materi di alam semesta yang diketahui, tetapi para ilmuwan belum tahu persis apa itu.

“Kami selalu mencari ekstensi untuk Model Standar. Kita harus menemukan jendela atau portal dari dunia kita ke dunia sektor gelap ini dan bermain secara eksperimental. Dan salah satunya bisa jadi boson Higgs,” lanjutnya.

Beacham menjelaskan “sektor gelap” mencakup fisika yang melampaui Model Standar.

Baca Juga :  Matahari Berotasikah?

“Sekarang, jangan terlalu bersemangat. Makalah ini belum memberi kita informasi baru tentang portal Higgs ke ‘sektor gelap’,” kata Beacham. Namun, makalah ini membuktikan bahwa kami dapat mencari hal-hal yang sangat langka seperti ini, dengan cukup mudah,” katanya, yang mendorong penelusuran secara keseluruhan. (Gatra/red)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Masyarakat Kota Serang Dukung Walikota H. Syafrudin Keluarkan Rekomendasi Bantu Anak Masuk Sekolah

30 Juni 2022 - 00:58 WIB

Metaverse Bakal Dilabrak Empat Tren Teknologi Baru

11 Juni 2022 - 19:02 WIB

Telkomsel Wujudkan Layanan IoT Smart Manufacturing, Kebut Industri 4.0

10 Juni 2022 - 19:09 WIB

Unisba Beri Pelatihan dan Pendampingan Blended Learning untuk Guru MI Swasta Cibeureum

20 Mei 2022 - 12:59 WIB

Informasi Pemerintahan dalam Genggaman, Kominfo Lokomotif Komunikasi Publik

20 Mei 2022 - 08:37 WIB

Transformasi Digital Produk UMKM Pacu Ekonomi Kreatif Indonesia

19 Mei 2022 - 10:59 WIB

Trending di Pendidikan & IPTEK
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d blogger menyukai ini: