Menu

Mode Gelap
31 Personel Polres Lampura Naik Pangkat di Hari Bhayangkara ke-76 Peringati Hari Bhayangkara ke-76, Danbrigif 4 Marinir/BS Berikan ‘Surprise’ Kapolda Lampung Marbot Mushola Ar-Rahman Sakit Gagal Ginjal, KJB Salurkan Santunan Sinergikan TNI-Polri dan Forkopimda, Danbrigif 4 Marinir/BS Hadir Undangan Kapolda Lampung Kerja Hari Pertama, Kapolda Lampung Diskusikan Penanganan Kondusifitas Wilayah Bersama Pimpinan dan Asosiasi Pers

Selebgram WIB ·

Mengupas Film Genre Horor ‘KKN di Desa Penari’, Trending Meski Penayangan Tertunda Dua Tahun 


					Mengupas Film Genre Horor ‘KKN di Desa Penari’, Trending Meski Penayangan Tertunda Dua Tahun  Perbesar

JAKARTA (RNSI/SMSI) – Belum lama ini, film bergenre horor kembali menjadi pembicaraan hangat penyuka film bioskop.

Film bertajuk ‘KKN di Desa Penari’ ini sempat tertunda dua tahun penayangannya.

Meski demikian, film inipun dirilis secara serentak di bioskop-bioskop yang ada di Indonesia, pada 30 April 2022.

Dilansir melalui laman duniaku.com, film ini merupakan adaptasi dari kisah horor viral yang diceritakan seorang warganet melalui aplikasi Twitter, bernama SimpleMan, medio 2019 lalu.

Diceritakan, film ini terkonsentrasi saat para mahasiswa yang harus menghadapi teror dari para makhluk gaib ketika mereka sedang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di sebuah desa terpencil.

Berikut ulasan film horor yang baru saja dirilis di bioskop-bioskop seantero tanah air.

1. Tersedia dalam versi Cut dan Uncut

Bisa dibilang ini merupakan hal yang baru dalam dunia perfilman di mana sebuah film dirilis dalam bentuk cut dan uncut pada waktu bersamaan.

Versi cut sendiri merupakan film yang sudah mendapat pemotongan adegan sedemikian rupa sehingga aman untuk ditonton.

Rating-nya sendiri dikhususkan untuk remaja.

Sedangkan uncut adalah film yang tak mendapat pemotongan adegan sama sekali sehingga mendapat rating untuk dewasa dan otomatis durasinya pun jadi jauh lebih panjang.

Baik versi cut dan uncut sendiri tidak mempengaruhi alur cerita.

2. Terkesan hanya mengikuti alur dari thread aslinya

Kesan pertama yang didapat dalam film ini adalah penceritaannya terlalu dipaksa mengikuti media asli yang menjadi adaptasi filmnya.

Sepanjang penayangan, banyak dialog yang pernah ditulis dalam thread Twitter-nya kembali terdengar dalam film ini.

Pergantian adegan satu ke adegan lain juga terkesan mendadak dan tak terasa adanya benang merah yang menghubungkan keduanya.

Baca Juga :  Soal Video Syur Gisel, Gading Marten : Bakal Berdampak pada Gempi

Ditambah lagi, kurangnya pengenalan para karakter juga membuat pengembangan ceritanya terasa lemah.

Padahal hal itu dibutuhkan para penonton sebagai acuan untuk menikmati jalannya alur film tersebut.

Akan lebih baik, jika cerita ‘KKN di Desa Penari’ mendapat olahan lebih lanjut termasuk ke detail watak para karakternya sehingga kita tahu bagaimana cerita ini mengalir tanpa harus membaca thread milik SimpleMan.

3. Serangan horor yang bahkan tak membiarkan penonton untuk istirahat

Selain penceritaan yang terlalu mengikuti media asli cerita horornya, film ini memiliki kekurangan di bagian penyajiannya yang terlalu menonjolkan sisi horornya.

Bayangkan saja, setiap karakter dalam film tersebut selalu mendapat kejutan horor dari para makhluk gaib tanpa jeda sama sekali.

Salah satunya, saat Nur dan Widya yang mendapat teror secara bergantian dalam durasi yang cukup lama.

Adegan satu ini berlangsung tidak hanya satu kali, melainkan sampai beberapa kali. Mulai dari saat hendak mandi, sampai waktu tidur.

Yang membuat film ini cukup seru, penonton diperlihatkan bagaimana kacaunya suasana akibat perbedaan persepsi dari masing-masing tokoh saat menghadapi teror tersebut.

4. Meski demikian, film ini memiliki kekuatan di penggambaran latar dan dialog yang memperkuat nuansa lokalnya

Terlepas dari lemahnya penceritaan dan sajian horor yang overdosis, film ini perlu diberi acungan jempol untuk masalah sajian latar tempat dan detail yang menguatkan nuansa horor yang menyelimuti.

Sesajen yang diletakkan di berbagai titik di desa, penggambaran desa yang memang terkesan sangat terpencil, dan berbagai tampilan bangunan bernuansa kuno, berhasil membangun nuansa angker yang khas.

Ditambah lagi dialek-dialek khas Jawa Timur yang keluar selama interaksi antar para tokohnya, juga mempertegas suasana lokal yang diusung sepanjang ceritanya berlangsung.

Baca Juga :  Hmmm, Dimas Beck 'Seruduk' Kening Luna Maya 

5. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada poin-poin di atas, film ini masih layak buat kamu tonton jika sekedar hanya ingin menikmati nuansa khas provinsi Jawa Timur, mulai dari penampakan alamnya, nuansa desanya yang misterius, atau dialog-dialog khas daerah tersebut.

Namun sayangnya, kamu harus bersiap karena nanti akan ada gelombang invasi horor dari para makhluk halus yang akan terus terjadi tanpa membiarkan kamu mengambil istirahat sejenak.

Selain itu, jika ingin mendapatkan sajian cerita dengan alur yang solid dan karakter yang jelas, kamu harus mempertimbangkan lagi sebelum membeli tiket mengingat film ini merupakan adaptasi dari cerita horor viral dari media sosial yang harusnya perlu dimatangkan lagi dalam produksinya. (duniaku.com/Agung Anggayuh Utomo/red)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Kenakan Gaun Silver, Body Goals Sophia Latjuba Pancing Cuitan Netizen

12 Juni 2022 - 10:27 WIB

Adudududu, Gala Dinner Bareng Miyabi Bertarif 15 Juta Rupiah

20 Mei 2022 - 01:42 WIB

Caisar Keep Smile Dicurigai Konsumsi Sabu, Mampu Live TikTok 24 Jam

9 Mei 2022 - 13:57 WIB

Wow, Rachel Vennya Pesta Bikini

6 Mei 2022 - 17:29 WIB

Paula Verhoeven Jadi Korban Penipuan Jutaan Rupiah Via Aplikasi WhatsApp

28 April 2022 - 08:33 WIB

Ingin Fokus Buat Konten Seksi, Natha Narita Menetap di Bali

30 Januari 2022 - 09:58 WIB

Trending di Selebgram
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d blogger menyukai ini: