Limbah Plastik Ancaman Serius bagi Kehidupan Manusia dan Alam Semesta

Pendidikan & IPTEK

JAKARTA (RNSI/SMSI) – Sudah menjadi satu problematika masyarakat di seluruh penjuru dunia, jika sampah plastik merupakan ancaman serius dan sangat berbahaya serta mampu merusak tatanan kehidupan di bumi.

Tidak hanya merusak kesehatan manusia saja, sampah plastik juga akan merusak ekosistem, baik yang ada di darat maupun di laut. Bahkan, limbah plastik mampu menghancurkan ekonomi dunia.

Seperti dilansir melalui laman resmi mongabay.co.id, dampak buruk yang bisa timbul kapan saja itu dapat terjadi karena sampah plastik adalah material yang tidak akan pernah hilang dari bumi.

Bahkan, walau sudah masuk ke dalam laut, sampah plastik hanya berubah menjadi ukuran lebih kecil yang dikenal dengan sebutan mikroplastik.

Sampah plastik yang kemudian bermetamorfosa menjadi limbah berukuran kepingan sangat kecil itu, ada yang berada di sedimen dan ada yang berada di dalam tubuh ikan.

Dalam perut ikan, jumlah mikroplastik bisa mencapai sekitar 0,25 hingga 1,5 partikel per gram dan seluruhnya akan masuk ke tubuh manusia jika ikan dikonsumi oleh mereka.

Selain berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan makhluk hidup, sampah plastik juga mengakibatkan dampak buruk pada perekonomian secara nasional maupun global. Setiap tahunnya, sampah plastik menyebabkan kerugian ekonomi dunia hingga mencapai USD13 miliar.

Pencemaran akibat sampah yang ada di laut, secara tidak langsung akan mengancam banyak hal yang ada di bumi. Termasuk, ancaman kepada manusia yang menjadi penguasa alam raya sejak berabad-abad lalu.

Akibat ancaman tidak langsung dari sampah di laut, manusia akan merasakan dampak seperti perubahan perilaku yang tidak disadari, gangguan hormon, kelainan genetik, penyakit kanker, dan juga penyakit aneh lain yang berpotensi bisa muncul kapan saja.

Berdasarkan hasil penelitian ilmiah dari Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Muhammad Reza Cordova, menjelaskan, pencemaran sampah di laut akan dirasakan sangat berbahaya karena tak hanya mengancam kesehatan saja.

“Akibat yang lebih parah lagi adalah polusi ini akan berdampak bagi keanekaragaman hayati dan ekonomi akan terkena dampaknya,” ungkap dia belum lama ini di Jakarta, kepada awak mongabay-indonesia.co.id.

Dengan kata lain, lanjut Muhammad Reza Cordova, sampah laut yang 80 persen di antaranya berasal dari daratan akan berakibat sangat fatal bagi pencemaran air, laut, tanah, dan udara.

“Pencemaran itu terutama disebabkan oleh sampah plastik yang ada di laut dan jumlahnya semakin banyak dari waktu ke waktu,” ungkapnya.

Ketika sampah plaatik terbuang di alam dan masuk ke dalam lautan, maka samlah itu menjadi ancaman serius, karena plastik tidak akan terurai dan membentuk jenis baru, yakni mikroplastik.

Menurut Reza, mikroplastik yang berada di dalam perut ikan jumlahnya bisa mencapai sekitar 0,25 hingga 1,5 partikel per gram. Seluruh mikroplastik tersebut akan berpindah ke tubuh makhluk hidup lain yang mengonsumsinya.

Jadi, jika manusia mengonsumsi ikan yang di dalam perutnya ada mikroplastik, maka secara tidak langsung dia telah mengonsumsi mikroplastik juga. Kalau itu sudah terjadi, maka manusia akan terkena dampak buruk, mengingat mikroplastik di dalam perut ikan kemungkinan sudah tercemar oleh polutan lain yang telah melekat.

“Inilah yang dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatan manusia. Jadi, mikroplastik ini merupakan bom waktu bagi kesehatan umat manusia,” jelas Reza.

Tak cuma mengancam kesehatan manusia, ancaman sampah di laut, terutama sampah plastik, juga mengancam keberlanjutan ekosistem di laut. Ancaman tersebut bisa berakibat terganggunya kekayaan laut di Indonesia.

Reza menambahkan, selama 56 tahun yang dihitung sejak 1964 hingga 2020, produksi plastik di bumi mengalami kenaikan dari 15 juta ton menjadi 380 juta ton.

Pada 2018, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) merilis data mengejutkan bahwa sebanyak 79 persen sampah plastik di tempat pembuangan sampah adalah terakumulasi dari segala penggunaan plastik atau plastik yanag berserakan di lingkungan sekitar.

Dari jumlah tersebut, ternyata hanya sekitar sembilan persen saja sampah plastik yang bisa didaur ulang dan sebanyak 12 persen yang bisa dibakar. Fakta tersebut menegaskan bahwa plastik menyebar ancaman yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup, terutama manusa.

“Lebih parahnya lagi, lapisan plastik di lapisan sedimen dapat menjadi indikator antroposen yang berakibat pada pencemaran tanah yang berkelanjutan,” tutur dia.

Selain berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan makhluk hidup, sampah plastik juga mengakibatkan dampak buruk pada perekonomian secara nasional maupun global.

Setiap tahunnya, sampah plastik menyebabkan kerugian ekonomi dunia hingga mencapai USD13 miliar.

Berdasarkan data yang dimiliki National Plastic Action Partnership (NPAP), sampah plastik yang ada di Indonesia jumlahnya sudah mencapai 650 ribu ton, dan menurut Bank Dunia sudah mencapai sekitar 201 ribu hingga 552 ribu dalam setahun.

“Sementara menurut data dari LIPI, sampah plastik di Indonesia produksinya sudah mencapai sekitar 270 ribu hingga 590 ribu ton,” tambah Reza Cordova.

Dirinya juga membeberkan, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.499 dengan panjang garis pantai 108.000 kilometer (km). Terumbu karang di laut Indonesia yang luanya mencapai 50.875 km persegi menyumbang 18 persen total luas terumbu karang dunia.

“Dan 65 persen luas total di Coral Triangle (Segitiga Karang),” katanya.

Sementara, untuk hutan bakau (mangrove) yang luasnya mencapai 3,49 juta hektare, Indonesia mendapatkan kekayaan berupa keanekaragaman ekosistem laut yang nilai ekonominya mencapai lebih dari Rp1.300 triliun.

“Ini diharapkan menjadi sumber pangan masa depan,” tambah dia mengakhiri.

Besarnya dampak negatif yang ditimbulkan dari sampah plastik, juga menjadi perhatian dari Pemerintah Indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemko Marves) bahkan mengakui kalau sampah di laut sudah menjadi persoalan global di berbagai negara.

Menteri Koordinator Bidang Marves, Luhut Binsar Pandjaitan  menerangkan, Pemerintah berkomitmen untuk terus mengurangi produksi sampah di laut dan semakin menguat setelah Peraturan Presiden RI Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Sampah di Laut resmi diterbitkan.

“Indonesia terus menunjukan komitmennya dalam mengurangi sampah di laut, ini ditujukan melalui bagaimana Indonesia menjadi negara pertama yang membentuk kerjasama multi pihak terkait hal ini, yang terus mendorong implementasi ekonomi sirkular,” ucap Luhut belum lama ini, seperti dilansir mongabay.co.id.

Menurut dia, dukungan kepada Indonesia datang dari negara-negara yang ada di forum regional maupun internasional. Dukungan tersebut diberikan karena Indonesia sedang fokus untuk berusaha menyelesaikan persoalan sampah yang ada di laut.

Pentingnya menjaga komitmen, karena sampah yang tidak terkelola dengan baik, akan sangat merugikan bagi ekosistem yang ada di bumi, terutama yang ada di laut. Kemudian, akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia, dan juga berdampak buruk bagi dunia pariwisata Tanah Air.

“Pengelolaan sampah masih perlu ditangani dengan serius, demi tercapainya komitmen penurunan sampah di laut hingga 70 persen,” tegas dia.

Dengan ancaman yang terus meningkat dari waktu ke waktu, pengelolaan sampah sebaiknya harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Cara tersebut akan mengurangi beban tempat pembuangna akhir (TPA), karena sampah akan dikelola dengan baik.

Selain cara tersebut, solusi yang bersifat inovatif juga harus dicari, karena itu diperlukan untuk bisa mengurangi sampah daratan yang masuk ke laut dan kemudian ke sungai. Jika itu terjadi, maka persoalan akan semakin berat.

Dalam mengelola sampah, Luhut menyebutkan bahwa sebaiknya itu dilakukan dengan menekankan sifat kolaboratif dengan mencari para pihak yang sama-sama berkomitmen. Kemudian, seluruh kementerian dan lembaga (K/L) juga harus bisa mendorong perbaikan tata kelola persampahan dengan ikut menangani persoalan sampah di laut.

Tak lupa, dia juga meminta semua pihak untuk ikut terlibat dalam penanganan sampah di laut, karena ada banyak kegiatan yang dilakukan di atas laut. Misalnya saja, kegiatan pelayaran kapal, dan pelabuhan untuk logistik dan perikanan.

“Kebocoran sampah di laut juga harus diperhatikan, sehingga kegiatan pelayaran, pelabuhan dan perikanan harus menerapkan tata kelola persampahan yang maksimal,” tegas dia.

Di luar itu, industri daur ulang plastik juga harus terus dikembangkan, dengan terus menyebarluaskan lokasi hingga merata ke luar pulau Jawa. Juga, bagaimana memberikan edukasi kepada masyarakat dan meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya mengelola sampah sebelum dibuang. (Mongabay.co.id/M Ambari/red

Foto Utama : Tidak hanya merusak kesehatan manusia saja, sampah plastik juga akan merusak ekosistem, baik yang ada di darat maupun di laut. Bahkan, limbah plastik mampu menghancurkan ekonomi dunia. Foto : dok.net.

:Views: 66 Total, Dilihat Hari ini 2 Kali