Menu

Mode Gelap
Ta’aruf STEBI Liwa TA 2022-2023: Mahasiswa adalah Agent of Change Pelajar Pesibar Diimbau Wajib Gunakan Helm Bina Warga Sukadanaudik, Mardiana Tegaskan Keutuhan Bangsa Berpedoman pada Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Bid Propam Polda Lampung Gelar Mitigasi Gaktiblin di Polres Lampura DPP GPPMP Luncurkan 25 Kandidat Tokoh Inspiratif Kandidat Peraih Award 2022

Inspirasi & Inovasi WIB ·

Desa Padangratu Sentra Industri Kreatif  Kecamatan Sungkai Utara


					Desa Padangratu Sentra Industri Kreatif  Kecamatan Sungkai Utara Perbesar

Lampung Utara (Restorasi News Siber Indonesia/SMSI) – Padangratu. Begitu nama salah satu desa yang ada di Kecamatan Sungkai Utara, Kabupaten Lampung Utara ini.

Menuju Desa Padangratu membutuhkan jarak tempuh sekitar 31,1 km dengan waktu 51 mnt melewati jalan raya Prokimal Kecamatan Kotabumi Utara, menggunakan kendaraan roda empat dari pusat ibukota kabupaten ini, Kotabumi.

Saat berkunjung ke sana, pada Kamis kemarin, 18 Februari 2021, awak media ini menyempatkan diri mampir di sebuah tobong bata.

Tidak ada yang berlebihan di tobong itu, kecuali aktifitas dua orang ibu-ibu paruh baya yang nampak begitu fokus membanting tanah liat untuk kemudian dicetak menjadi kepingan batu bata mentah siap untuk dibakar.

Satu di antara kedua ibu itu bernama Ibu Ani, (55), warga Desa Purwosari, yang berada tepat berseberangan dengan Desa Padangratu. Berbatas langsung dengan aliran kali kecil di atas tobong bata yang ternyata milik ibu Ani.

Menurut ibu Ani, menjadi pengrajin batu bata banting sudah lama dilakoninya bersama suami. Dirinya hanya mencetak yang kadangkala dibantu dengan tetangga yang kebetulan membutuhkan pekerjaan.

“Iya, sejak saya menikah inilah yang saya kerjakan bersama suami saya. Ini buat membiayai kehidupan kami sehari-hari,” kata ibu dari tiga orang anak ini.

Dalam sehari, dirinya mampu mencetak 500 keping bata banting yang juga dikenal dengan sebutan bata tempek.

“Harga jual bata banting dari tobong saya ini Rp.300 ribu perseribu bata. Kalau penghasilannya, yah, ga nentu juga mas. Kalau lagi ramai pemesan, yah, alhamdulillah. Tapi kalau sekarang ini, begitulah, mas. Lagi sepi pembeli batanya,” ucap ibu Ani.

Ditambah sekarang ini banyak konsumen yang beralih menggunakan bata bolong dan batako untuk membangun rumah.

Ibu Khotimah, buruh bata banting

Sementara itu, di tempat yang sama, ibu Khotimah, (47), yang di hari itu ditemui sedang menemani ibu Ani mencetak keping bata banting. Ia juga mengaku sudah lama melakoni profesi sebagai buruh cetak bata.

Baca Juga :  Mutasi Bettafish Unsur Genetik atau Pola Perawatan? 

“Saya mendapat upah per 1000 keping bata sebesar Rp.40 ribu. Sehari saya bisa dapat 500 bata,” kata ibu Khotimah.

Ia pun mengakui baru menerima upah apabila dirinya sudah mencetak sebanyak seribu keping bata tempek siap bakar.

“Ya, upahnya dibayar langsung kalau sudah jadi seribu keping bata, mas,” aku ibu Khotimah.

Terpisah, Sekretaris Desa Padangratu, M. Supriyadi, mewakili Kepala Desa (Kades) Edi Johan, mengatakan, pengrajin bata banting yang ada di desa itu cukup banyak dikarenakan tekstur tanah lempung (tanah liat) mendominasi sepanjang aliran kali kecil Desa Padangratu.

“Pengrajin bata banting di desa kami cukup banyak. Ada sekitar 40 tobong bata sebagai tempat produksi milik warga kami,” terang M. Supriyadi, yang akrab disapa Otong, saat menemani awak media ini berkeliling di seputaran Desa Padangratu, Kamis kemarin, 18 Februari 2021.

Dirinya juga mengatakan paguyuban masyarakat Desa Padangratu dengan desa sekitar masih begitu kuat.

“Jadi tidak heran, mas, kalau kita melihat banyak ibu-ibu yang bekerja di tobong bata,” kata Otong seraya mengajak utnuk melihat warganya yang sedang bergotong-royong membangun sebuah rumah milik warga setempat.

“Nah itu lihat, warga kami sedang bergotong-royong membantu tetangganya yang sedang membangun rumah,” ucapnya.

Tak hanya itu, menurut Otong, warga Desa Padangratu, tidak hanya penghasil batu bata banting. Tapi, warga desa setempat juga membjat pupuk organik berbahan dasar sampah basah, handycraft berbahan sampah kering, serta home industry closet.

“Kalau untuk pupuk organiknya sudah dilakukan melalui kelompok tani. Sementara untuk handycraft berbahan baku sampah kering dikelola melalui ibu-ibu PKK,” terang Otong.

Sekdes Padangratu dengan closet produksinya

Untuk home industry closet, lanjutnya, masih dilakoni secara perorangan. “Kalau pembuatan closet masih secara perorangan. Termasuk saya, mas,” katanya seraya mengajak awak media ini ke belakang kediamannya.

Baca Juga :  Pembudidaya Ikan Gurame di Ciamis Mampu Raup Jutaan Rupiah

Di belakang rumah Sekdes Padangratu ini, tampak berjejer closet buatannya bersama warga setempat yang dipekerjakan.

Otong dan pekerjanya sedang menyusun closet

“Saya jual closet ini Rp85 rb/unit, mas. Itu kalau ambil sendiri ke sini. Kalau diantar ke tempat pemesan, harganya ditambah dengan ongkos kirim tergantung jarak yang harus ditempuh,” tutupnya. (ardi)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Tanaman Aquascape Butuh Injeksi CO2

20 Mei 2022 - 22:45 WIB

DPM-TSP Pekanbaru Luncurkan Aplikasi PIC, Informasi Investasi

20 Mei 2022 - 14:08 WIB

Pembudidaya Ikan Gurame di Ciamis Mampu Raup Jutaan Rupiah

19 Mei 2022 - 18:40 WIB

Agrobisnis Tanaman Hias Masih Prospektif, Mampu Raup Puluhan Juta Rupiah

8 Mei 2022 - 05:50 WIB

Industri Kreatif Batu Akik Kembali Marak

27 Januari 2022 - 17:27 WIB

Ayo Tanam Pepaya California, Jadikan Pekarangan Lebih Produktif

18 November 2021 - 08:26 WIB

Trending di Inspirasi & Inovasi
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
%d blogger menyukai ini: